Blog ini di buat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pengambangan dan Inovasi Kurikulum.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jepang merupakan negara yang maju diberbagai
bidang kehidupan seperti : politik, ekonomi, budaya, teknologi, dll. Kemajuan
yang dimiliki Jepang tentu saja memengaruhi sarana dan prasarana serta kualitas
pendidikan yang ada di negara tersebut. Sejarah membuktikan bahwa, pendidikan
di negara maju seperti Amerika Serikat, Yunani, Jerman, serta negera maju
lainnya membangun kemajuan bangsa dengan memprioritaskan pendidikan yang ada di
negaranya dimana negara berupaya mencerdaskan kehidupan bangsa serta menghargai
terhadap setiap perkembangan ilmu pengetahuan.
Bagi negara Jepang, pendidikan merupakan alat
yang berperan sangat penting guna meningkatkan Sumber Daya Manusia. Dimana
kualitas pendidikan harus terus ditingkatkan karena mampu menentukan kualitas
Sumber Daya Manusia pada suatu negara itu sendiri.
Pendidikan diharapkan mampu mengembangkan
kemampuan dan watak setiap individu di tengah peradaban bangsa. Jepang dianggap
unggul dalam mamajukan pendidikan yang ada di negaranya, dimana Jepang terpilih
sebagai negara dengan kualitas dan sistem pendidikan terbaik se Asia dan
tercatat sejak tahun 1970 negara Matahari Terbit ini mampu mengemban setiap
tujuan pendidikan yang telah dicangankan hanya dalam kurun waktu 25 tahun.
1.2 Tujuan Penulisan
1.
Sebagai bahan perbandingan dalam rangka
peningkatan kualitas pendidikan dan Sumber Daya Manusia di negara kita.
2.
Untuk menambah wawasan pengetahuan tentang
pendidikan formal, tujuan pendidikan, serta kurikulum yang diterapkan di negara
Jepang.
3.
Untuk memberikan masukan positif kepada
dosen,mahasiswa, tenaga pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kurikulum
dan Kebijakan Pada Sistem Pendidikan Jepang
Pembuatan
kurikulum pendidikan Jepang diawasi oleh The Board of Education yang
terdapat pada tingkat perfectur dan munipal. Karena kedua lembaga
ini masih terkait erat dengan MEXT, maka pengembangan kurikulum Jepang masih
sangat kental sifat sentralistiknya. Namun rekomendasi yang dikeluarkan
oleh Central Council for Education (chuuou shingi kyouiku kai) pada tahun 1997
memungkinkan sekolah berperan lebih banyak dalam pengembangan kurikulum di masa
mendatang.
Beberapa
hal berikut harus diperhatikan ketika sekolah menyusun kurikulumnya:
1. Mengacu kepada standar kurikulum nasional
2. Mengutamakan keharmonisan pertumbuhan jasmani dan
rohani siswa
3. Menyesuaikan
dengan lingkungan sekitar
4. Memperhatikan
step perkembangan siswa
5. Memperhatikan karakteristik course
pendidikan/jurusan pada Level SMA
Secara
garis besar penyusunan kurikulum sekolah adalah sebagai berikut :
1. Menetapkan tujuan sekolah
2. Mempelajari standar kurikulum, dan korelasinya
dengan tujuan sekolah
3. menyusun
course wajib dan pilihan untuk SMP dan SMA
4. Mengalokasikan
hari efektif sekolah dan jam belajar.
Sementara
aturan pendidikan yang ada di negara Jepang terbagi atas dua periode yaitu
periode sebelum Perang Dunia II dan periode setelah Perang Dunia II dimana
kedua periode tersebut memiliki butir-butir perbedaan mengenai kebijakan yang
diterapkan dalam pendidikan Jepang.
Sebelum
Perang Dunia ke II diberlakukan kebijakan pendidikan yang terangkum dalam
salinan Naskah Kekaisaran mengenai pendidikan atau yang disebut dengan Imperial
Rescript on Education. Dimana pada zaman dahulu para kaisar telah dididik
berbasis nilai yang luas dan kekal, serta menanam nilai-nilai positif secara
mendalam dan kokoh dalam pribadi setiap kaisar. Materi yang diajarkan pada
zaman dahulu lebih cendrung mengarah pada kesetiaan dan kepatuhan dari generasi
kegenerasi dengan tetap menerapkan estetika.
Nilai-nilai
positif dari para kaisar di Jepang inilah yang diterapkan pada pendidikan yang
ada di negara tersebut. Dimana setiap individu harus mampu menjalin hubungan
yang harmonis, mencurahkan kasih sayang terhadap orang-orang di sekelilingnya,
kesetiaan, dan kepatuhan kepada orang tua, suami, istri, sahabat, menjadi diri
sendiri yang moderat dan sederhana, serta menuntut ilmu sedalam mungkin dan
diimbangi dengan jiwa seni.
Setelah
berakhirnya Perang Dunia ke II yaitu pada tanggal 3 November 1946, kebijakan
pendidikan Jepang mulai dirubah berbasis Hak Asasi Manusia, kebebasan hati
nurani, jaminan setiap individu untuk mengembangkan kebebasan berfikir,
kebebasan akademik dimana setiap individu memperoleh hak untuk mendapatkan
pendidikan sesuai dengan kemampuannya.
Maret
1947, Peraturan Pendidikan Nasional Jepang (School
Education Law) menentapkan susunan pendidikan dasar pendidikan yang
keseluruhannya terdiri atas 6-3-3-4. Yang artinya tahap-tahap pendidikan Jepang
terdiri atas empat tahapan yang memiliki tujuan, visi, misi, yang khusus pada
setiap jenjang tahapannya.
2.2 Kurikulum Pendidikan di Jepang
1.
Seperti
di Indonesia, kurikulum pendidikan Jepang disusun oleh sebuah komite khusus
dibawah kontrol Kementerian Pendidikan (MEXT). Komisi Kurikulum terdiri dari
wakil dari Teacher Union, praktisi (pakar pendidikan), wakil dari kalangan
industri, dan wakil MEXT. Komisi ini bertugas mempelajari tujuan pendidikan
Jepang yang terdapat dalam Fundamental Education Law (Kyouiku kihonhou), lalu
menyesuaikannya dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun luar
negeri.
2.
Dalam
menyusun draf kurikulum seringkali terjadi perdebatan panjang antara
wakil-wakil persatuan guru dan wakil kementrian karena kepentingan politik.
3.
Kurikulum
di level sekolah disusun dengan kontrol penuh dari The Board of Education di
Tingkat Prefectur dan municipal (distrik).
4.
Karena
kedua lembaga ini masih terkait erat dengan MEXT, maka pengembangan kurikulum
Jepang masih sangat kental sifat sentralistiknya. Namun rekomendasi yang
dikeluarkan oleh Central Council for Education (chuuou shingi kyouiku kai) pada
tahun 1997 memungkinkan sekolah berperan lebih banyak dalam pengembangan
kurikulum di masamendatang.
5.
Pembaharuan
kurikulum di Jepang mengikuti pola 10 tahunan. Hal-hal baru dimasukkan dalam
setiap perubahan kurikulum yang terjadi. Pertimbangan dilakukan perubahan
kurikulum adalah adanya perubahan sosial dan ekonomi masyarakat Jepang
khususnya dan dunia pada umumnya.
Berikut
ini adalah perubahan kurikulum yang
pernah dilakukan Jepang.
1. Pada tahun 1955, kurikulum pendidikan setelah PDII
disusun, kurikulum ini merupakan kurikulum yang paling padat dan memuat
pengetahuan yang paling banyak dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum
berikutnya.
2.
Pada
tahun 1967, kurikulum pendidikan Jepang menerima metode Investigative Learning,
yang memuat materi pengajaran sedikit, hanya bagian-bagian yang sesuai dan
memungkinkan dilakukannya kegiatan investigative yang termuat di dalam
kurikulum ini.
3.
Tahun
1977 kurikulum diubah lagi. Kali ini menganut system pendidikan yang tidak
membebani siswa. Dengan pengaruh ini semua siswa dites, berdasarkan hasil tes
ini bagian dari kurikulum yang dianggap sulit dibuang, dengan demikian isi
kurikulum berkurang lagi.
4.
Tahun
1988 terjadi perubahan pandangan pada kalangan pendidikan di Jepang. Pada saat
ini kegiatan hands-on dianggap penting. Maka dalam kurikulum hanya topik-topik
yang bisa dihands-on kan saja yang dimuat, bagian yang tidak memungkinkan
kegiatan hands-on tidak dimuat di dalam kurikulum.
5.
Kurikulum
yang dipakai sekarang ini merupakan kurikulum yang disusun pada tahun 1998.
Dibandingkan dengan kurikulum lainnya, kurikulum ini merupakan yang paling
sedikit dan paling ringan muatannya. Kurikulum ini mendapat kritikan dari
kalangan pengusaha seperti Toyota dan Sharp. Mereka menganggap kurikulum yang
ada tidak memberikan kesempatan belajar yang cukup bagi anak-anak berbakat.
Anak-anak yang cemerlang dianggap tidak mendapat tantangan yang cukup dari
kurikulum yang sekarang ini.
6.
Penerapan
kurikulum 1998 membuat pemerintah harus berusaha keras untuk mengubah pola
pikir guru-guru Jepang. Guru-guru di Jepang sejak jaman perang percaya bahwa
pendidikan bersifat massal dan sama. Pendidikan yang menjurus kepada kekhasan
tertentu atau menerapkan pola atau metode yang lain daripada yang lain dianggap
salah. Guru-guru Jepang senantiasa percaya bahwa semua siswa harus memiliki
prestasi yang sama, kedisiplinan yang sama dengan sistem pendidikan yang sama
pula. Adanya kurikulum 1998 memberikan pengertian bahwa setiap anak punya
potensi yang berbeda dengan lainnya dan inilah yang harus dibina. Kurikulum
yang baru bersifat fleksibel dan memungkinkan sekolah untuk meramu kurikulum
sendiri berdasarkan kondisi daerah, sekolah dan siswa yang mendaftar.
7.
Sebagai
pengganti kurikulum 1998, pada tahun 2001 Kementrian Pendidikan Jepang
mengeluarkan rencana reformasi pendidikan di Jepang yang disebut sebagai
`Rainbow Plan.
8. Hingga tahun 2007 ketujuh poin telah dilaksanakan
secara simultan, walaupun di beberapa bagian masih ada yang diperdebatkan.
Protes berasal dari kalangan guru, masyarakat dan pemerhati pendidikan. Salah
satu bagian yang masih menjadi perdebatan adalah pendidikan moral berkaitan
dengan nasionalisme, perlu tidaknya menceritakan sejarah perang kepada anak
didik, perlu tidaknya menyanyikan lagu Kimigayo atau mengibarkan bendera
hinomaru. Keunggulan Rainbow Plan ada pada point ke-4. Dengan point ini sekolah
berupaya membuka diri kepada masyarakat dan orang tua. Program yang dapat
dijalankan misalnya dengan program jugyou sanka (orang tua yang menghadiri
kelas anak-anaknya), sougou teki jikan (integrated course) yang melibatkan masyarakat
setempat, dan forum sekolah. Poin ke-5 sampai saat ini masih dibicarakan. Hal
yang menjadi perdebatan adalah adanya `kyouin hyouka` yaitu sistem evaluasi
guru yang dibebankan kepada The Board of Education dan sertifikasi mengajar
melalui training atau pendidikan guru.
2.3 Reformasi Pendidikan di Jepang
Menurut
Hara Kiyoharu (2007:3), reformasi pendidikan di Jepang telah berlangsung tiga
kali yaitu, reformasi pada masa restorasi Meiji, reformasi sesudah PD II, dan
reformasi menuju abad 2.
Reformasi
pertama pada masa Meiji (1872-1890) membawa pendidikan di Jepang memasuki masa
modern dengan diterapkannya sistem persekolahan yang terstruktur dan kesempatan
luas bagi warganegara untuk mengakses pendidikan. Tetapi pendidikan pada masa
ini masih terkotak-kotak antara pendidikan elitis dan pendidikan orang
kebanyakan. Selanjutnya pada era Taishō (1912-1926)
diperkenalkan pula pendidikan liberal yang dipengaruhi oleh paham liberalism
yang berkembang di Amerika.
Tahun 2001 Kementrian Pendidikan
Jepang mengeluarkan rencana reformasi pendidikan di Jepang yang disebut sebagai
“Rainbow Plan”.
Sistem Pendidikan di Jepang dipegang tiga lembaga
pengelolaan yaitu :
- Pemerintah Pusat
- Pemerintah Daerah
- Swasta.
Dengan
sistem admistrasi pendidikan dibangun atas empat tingkatan:
- Sistem administrasi pusat
- Sistem administrasi prefectural (Provinsi dan Kabupaten)
- Sistem administrasi municipal (Kabupaten dan Kecamatan)
- Sistem administrasi sekolah.
Masing-masing
sistem administrasi tersebut memiliki tingkatan dan perananya dan kewenangannya
masing-masing untuk saling mengisi dan berkerjasama dalam mengatur setiap
sistem administrasi pada pendidikan Jepang. Di samping itu terjalin kohesi yang
baik antara pemerintah, kepala sekolah, guru, murid dan orang tua sehingga
dukungan terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan berlangsung dengan baik.
Selain
itu bisa dikatakan bahwa sistem pendidikan pada negara Jepang memiliki
kemiripan pada sistem pendidikan di negara kita dimana jenjang pendidikannya
melalui 4 tahap secara umum yaitu 6-3-3-4 artinya siswa harus melewati 6 tahun
untuk tahap pendidikan dasar, 3 tahun Sekolah Menengah Pertama, 3 tahun Sekolah
Menengah Atas, 4 tahun Perguruan Tinggi. Hal tersebut dikarenakan karena negara
kita merupakan negara bekas jajahan Jepang sehingga sebagian sistem pendidikan
negara Jepang masih diterapkan di negara kita dengan sedikit perubahan dimana
negara kita lebih memfokuskan pada pelajaran logika dan penilaian hasil akhir
semester sebagai penentu kelulusan siswa sedangkan di negara Jepang lebih
difokuskan pada pengembangan watak kepribadian dalam kaitannya terhadap
kehidupan sehari-hari dan penilaian ditentukan oleh guru/dosen kelas dengan
melihat kinerja belajar siswa sehari-hari sebagai penentu kelulusan.
Perlu
kita ketahui bahwa sistem pendidikan Jepang dibangun atas dasar
prinsip-prinsip:
1.
Legalisme: Pendidikan di Jepang tetap mengendepankan aturan
hukum dan melegalkan hak setiap individu untuk memperoleh pendidikan tanpa
mendiskriminasikan siapapun, suku, agama, ras, dan antar golongan berhak
mendapatkan pendidikan yang layak.
2.
Adminstrasi yang Demokratis: Negara memberikan kesempatan kepada siapa saja
untuk memperoleh pendidikan dengan biaya yang masih terjangkau oleh
masyarakatnya. Biaya pendidikan Jepang di usahakan untuk bisa dijangkau sesuai
keuangan masyarakatnya, memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi ataupun
kurang mampu.
3. Netralitas: Pendidikan Jepang diberikan
kepada setiap siswa dengan tingkat pendidikan masing-masing dengan
mengedepankan pandangan persamaan derajat setiap siswanya tanpa membeda-bedakan
latar belakang materil, asal-usul keluarga, jenis kelamin, status sosial,
posisi ekonomi, suku, agama, ras, dan antar golongan.
4. Penyesuaian dan penetapan
kondisi pendidikan: Dalam proses pengajaran memiliki tingkat kesulitan
masing-masing yang disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan pendidikan yang
ditempuh.
5. Desentralisasi: Penyebaran
kebijakan-kebijakan pendidikan dari pemerintah pusat secara merata kepada
seluruh sekolah yang ada dinegara tersebut sehingga perkembangan dan kemajuan
sistem pendidikan sehingga dapat diikuti dengan baik.
Tujuan-tujuan
yang menjadi target yang ingin dicapai pendidikan Jepang yaitu :
a. Mengembangkan kepribadian setiap individu secara
utuh.
b.
Berusaha
keras mengembangkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas baik pikiran maupun jasmani.
c.
Mengajarkan
kepada setiap siswa agar senantiasa memelihara keadilan dan kebenaran.
d.
Setiap siswa dididik untuk selalu
menjaga keharmonisan dan menghargai terhadap lingkungan sosialnya.
e. Setiap siswa dituntut untuk disiplin, menghargai
waktu, dan memiliki etos kerja.
f.
Pengembangan
sikap bertanggungjawab terhadap setiap pembebanan pelajaran dan tugas yang
diberikan kepada siswa sesuai dnegan tingkat pendidikannya masing-masing.
g. Meningkatkan semangat independen setiap siswa untuk
membangun negara dan menjaga perdamaian dunia.
2.4 Struktur
dan Jenis Pendidikan di Jepang
Secara
umum tidak ada perbedaan antara struktur pendidikan di Jepang dengan di
Indonesia yang terdiri atas Taman kanak-kanak, Pendidikan dasar, pendidikan
menengah, pendidikan tinggi dan pendidikan non formal.Pendidikan Jepang terdiri atas sistem 6-3-3-4
dimana siswa wajib mengemban :
1.
6 tahun Sekolah Dasar (Shōgakkō)
2.
3
tahun Sekolah Menengah Pertama (Chūgakkō)
3.
3
tahun Sekolah Menengah Atas (Koutougakkou)
4.
4 tahun atau lebih untuk jenjang
Perguruan Tinggi (Daigaku).
Pembagian tingkat pendidikan Jepang memiliki
persamaan dengan negara Indonesia dimana siswa harus melewati jenjang 9 tahun
wajib bersekolah dan melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah
Menengah Atas dan Perguruan Tinggi. Jepang juga menyediakan pendidikan lembaga
Taman Kanak-kanak yang lebih ditekankan pada pendidikan terhadap pelatihan dan
kebiasaan sehari-hari anak usia dini.
1. Taman Kanak-Kanak (Youchien)
Tujuan TK tercantum dalam artikel no 77 UU
Pendidikan Jepang. TK atau youchien bertujuan untuk mengasuh anak-anak usia
dini, memberikan lingkungan yang layak bagi perkembangan jiwa anak. Untuk
mencapai tujuan tersebut dijelaskan tata caranya:
a. Merancang pendidikan yang mengembangkan fungsi
tubuh dan jiwa secara harmoni melalui pembiasaan pola hidup yang sehat, aman
dan menyenangkan.
b. Menumbuhkan semangat kemandirian, kehidupan
berkelompok yang penuh kegembiraan dan kerjasama.
c. Mengenalkan kehidupan sosial dan membina kemampuan
bersosialisasi.
d. Mengarahkan penggunaan bahasa dengan benar serta
menumbuhkan minat berkomunikasi dengan sesamanya.
e. Mengarahkan minat untuk berkreasi melalui
pembelajaran musik, permainan, menggambar dan lain-lain.
Sekitar 63% anak-anak dijepang memulai pendidikan
dengan Taman Kanak-kanak. Usia masuk taman kanak-kanan adalah 3-5 tahun.
Pendidikan Taman kanak-kanak berada di bawah naungan kementrian pendidikan
Jepang (MEXT). Kurikulum TK ditetapkan oleh masing-masing sekolah dengan cara
musyawarah antar sekolah dan mempertimbangkan petunjuk pemerintah. Setiap taman
kanak-kanak harus mengembangkan kurikulum yang cocok untuk tahap perkembangan
anak-anak dan masyarakat setempat. Setiap kurikulum yang disusun harus
mengikuti persyaratan hukum yang berlaku.
Berikut ini beberapa pedoman dalam menyusun kurikulum
TK di jepang:
a.
Tujuan
dan isi kurikulum harus mencerminkan tujuan pendidikan Taman kanak-kanak.
Tujuan pendidikan taman kanak-kanak adalah mengajarkan kebiasaan dan sikap
dasar sehat, membantu anak-anak belajar untuk mencintai dan mempercayai orang,
mengembangkan kemandirian, kerjasama, dan sikap moral yang baik, mengembangkan
sikap ketertarikan terhadap alam dan lingkungan mereka, mengembangkan
keterampilan mendengar dan berbicara, dan pemahaman bahasa, serta memupuk
kepekaan dan kreativitas melalui berbagai pengalaman.
b.
Kurikulum
dirancang dengan mempertimbangkan masa lalu anak dan masa
depan yang akan dibangun.
c.
Kurikulum
harus dirancang dengan pandangan jangka panjang dari anak-anak masuk sampai
menyelesaikan pendidikan TK. Hal ini bertujuan memberikan kenangan yang indah
kepada anak selama mengikuti pendidikan di Taman Kanak-kanak. Jumlah minimum
belajar dalam satu tahun adalah sembilan puluh minggu kecuali dalam keadaan
khusus.
d. Jumlah standar belajar di TK adalah empat jam
perhari.
Pendidikan
Taman kanak-kanak di jepang dilaksanakan oleh pemerintah (TK Negeri) maupun
oleh TK swasta. Persamaan dan perbedaan pola pendidilan TK negeri dan swata
adalah: Syarat masuk TK Tinggal di lingkungan TK, berusia 3-5 tahun Berusia 3-5
tahun. Waktu belajar Dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang. Libur pada hari sabtu
dan minggu. Tergantung dari TK yang bersangkutan. Pendaftaran Dari bulan
oktober sampai pertengahan November Dari bulan oktober sampai pertengahan
November. Biaya Biaya masuk dan perawatan pendidikan Biaya ujian, biaya masuk,
perawatan pendidikan dan sumbangan pendidikan
2. Sekolah Dasar (Shōgakkō)
Pendidikan 9 tahun dari SD hingga SMP merupakan
pendidikan wajib yang harus diikuti oleh setiap siswa yang ada di Jepang dimana
pendidikan tersebut menjadi dasar-dasar pembentukan kepribadian, watak, dan
prilaku. Sehingga pemerintah Jepang sengaja membebaskan biaya pendidikan untuk
tingakat SD hingga SMP. Pendidikan wajib di Jepang diikuti oleh siswa yang
berusia 6-15 tahun. Setiap tanggal 1 April Sekolah Dasar di Jepang mulai
membuka tahun ajaran baru dan membuka pendaftaran bagi para calon-calon siswa
tingkat Sekolah Dasar.
Pada Sekolah Dasar, murid-murid akan diajarkan
bahasa Jepang, pengenalan lingkungan hidup, musik, menggambar, olahraga,
kerajinan tangan, pelajaran-pelajaran topik, ilmu-ilmu sains, aritmatik,
homemaking, dan sosial. Pada pelajaran mengenai ilmu sosial murid-murid Sekolah
Dasar ini diberikan pendidikan moral, berpartisipasi dalam aktivitas sosial,
dll. Pada Sekolah Dasar dipimpin oleh seorang guru kelas yang menguasai seluruh
mata pelajaran yang akan diajarkan kepada para siswanya.
Jepang
menerapkan wajib belajar sembilan tahun. Rentang usia pendidikan dasar 6 sampai
15 tahun. Seperti halnya di Indonesia wajib belajar di Jepang terdiri dari SD
dan SMP. Lain dengan Indoneia wajib belajar sembilan tahun benar-benar
ditekankan oleh pemerintah kepada semua penduduk yang tinggal di Jepang baik
warga negara Jepang maupun warga negara asing. Setiap orang tua yang mempunyai
anak berusia 6-15 tahun harus menyekolahkan anaknya. Apabila terdapat orang tua
yang tidak menyekolahkan anaknya maka sanksi hukum dapat dikenakan kepada orang
tua tersebut. Sekolah Dasar di Jepang 97% adalah sekolah negeri. Biaya
pendidikan sebagian besar ditanggung pemerintah seperti biaya masuk, biaya
pengajaran dan buku sekolah dengan fasilitas sekolah yang lengkap. Orang tua
hanya menyediakan fasilitas lainnya seperti perlengkapan sekolah, makan siang
dan biaya piknik.
Usia awal
masuk sekolah dasar adalah 6 tahun, dengan lama pendidikan di sekolah dasar 6
tahun. Kelas di Jepang akan ditentukan berdasarkan usia anak per bulan April.
Kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 07.15 sampai dengan 15.00 dan tidak
boleh diantar maupun dijemput oleh orang tua. Tidak seperti di Indonesia,
anak-anak tidak memakai seragam ke sekolah. Pakaian anak-anak Jepang ke Sekolah
Dasar adalah bebas.
Tujuan pendidikan dasar di Jepang adalah
menyempurnakan karakter, karena itu pendidikan Jepang menekankan
pada etika, seni, olahraga, dan pengetahuan umum. Pelajaran umum yang diberikan
juga tidak mengacu kepada kurikulum, namun disesuaikan dengan kondisilingkungan
dan anak. Pengetahuan umum di sekolah Jepang antara lain pelajaran menanam
padi, koperasi atau pelajaran koordinasi, dan seni. Pendidikan di sekolah dasar
(SD) lebih menitikberatkan pada pengembangan mental. Karena itu, pelajaran yang
diberikan adalah ketrampilan, sosial (bersosialisasi dengan teman), rumah
tangga, bahasa nasional, pelajaran berhitung, pengetahuan alam (mengenal alam
dan lingkungan), seni, olahraga, dan lompat tali.
Guru
Sekolah Dasar di Jepang memiliki tingkat pendidikan sarjana dan memiliki
sertifikat mengajar kelas satu. Setelah mendapatkan sertifikat mengajar,
hambatan bagi seorang guru di sekolah umum adalah lulus ujian yang ditetapkan
oleh prefektur agar menjadi seorang guru. Setelah lulus dari ujian ini maka
guru dapat bekerja di semua sekolah di prefektur. Namun, lisensi ini hanya
berlaku untuk satu tahun dan selanjutnya harus mengikuti ujian lagi.
3. Sekolah Menengah Pertama (Chūgakkō)
Murid SMP diajarkan pendidikan bahasa Jepang,
bahasa Inggris, bahasa asing, ilmu-ilmu sosial, matematika, sains, musik,
kesehatan, pendidikan jasmani, seni, industri, kesejahtraan keluarga,
homemaking. Semua pelajaran tersebut diberikan pada hari-hari berbeda dalam
seminggu tanpa ada pengulangan mata pelajaran yang sama dalam seminggu. Pada
pelajaran mengenai ilmu sosial murid-murid SMP juga diberikan pendidikan moral,
berpartisipasi dalam aktivitas sosial, dll. Setiap mata pelajaran di kelas
dipimpin oleh guru-guru yang berbeda sesuai dengan mata pelajaran
masing-masing. Untuk pendidikan wajib (SD dan SMP) tidak dikenakan biaya apapun
terkecuali untuk biaya makan siang, kunjungan lapangan, tamasya, dan alat tulis
menjadi tanggungan orang tua murid masing-masing.
Pada pendidikan wajib Jepang memiliki prosedur yang
sama dengan negara Indonesia dimana siswa harus melewati jenjang secara
bertahap, murid tidak diperbolehkan mengambil jenjang keatas sebelum tuntas
pelajaran, murid bisa tinggal kelas apabila tidak memenuhi nilai-nilai yang
layak atau dianggap belum mampu menguasai ilmu-ilmu yang diberikan guru kelas.
Pendidikan
menengah di Jepang terdiri dari dua level yaitu SMP dan SMA. SMP merupakan
wajib belajar. Seperti halnya di SD, SMP-SMP jepang 97% merupakan sekolah
negeri dan hanya 3% saja yang dikelola oleh swasta. Sekolah-sekolah yang
dikelola oleh swasta biasanya memiliki ciri khas seperti keagamaan. Guru di
sekolah Menengah Pertama mempunyai pendidikan sarjana dengan sertifikat kelas
dua. Seperti halnya di sekolah dasar sertifikat hanya berlaku selama satu tahun
selebihnya harus mengikuti ujian kembali.
Sejalan
dengan pendidikan di Sekolah Dasar pendidikan di SMP bertujuan menitik beratkan pada pendidikan mental dengan tingkatan
yang lebih tinggi. Pada level ini siswa diberikan pembelajaran vokasional dan
bahasa. Mata pelajaran terdiri atas mata pelajaran wajib dan mata pelajaran
pilihan. Mata pelajaran pilihan bersifat ”efektif” dan yang paling banyak
digunakan adalah bahasa Inggris. Beberapa mata pelajaran yang diberikan di
Sekolah Menengah Pertama adalah bahasa nasional, sosial,
etika, bahasa Inggris, pengetahuan alam, olahraga, menulis, lompat tali, seni, koperasi, renang, dan lari jarak jauh.
etika, bahasa Inggris, pengetahuan alam, olahraga, menulis, lompat tali, seni, koperasi, renang, dan lari jarak jauh.
Pemerintah
jepang sangat peduli dengan wajib belajar sembilan tahun. Usaha pemerintah
jepang agar seluruh anak di jepang dapat bersekolah sampai SMP tidak memandang
apakah anak tersebut warga negara jepang maupun warga negara asing yang sedang
berada di Jepang. Secara otomatis kantor kelurahan akan memanggil orang tua
yang memiliki anak dalam usia wajib belajar.
Berikut
ini adalah proses yang harus dilakukan oleh warga asing jika mempunyai anak wajib belajar:
Ø Menentukan alamat tempat tinggal.
Ø Mendaftarkan kependudukan warga negara asing.
Ø Menerima kartu kependudukan warga negara asing.
Ø Mendaftarkan untuk masuk sekolah pada kantor
kelurahan setempat.
Ø Menerima surat ijin masuk sekolah dari departemen
pendidikan kelurahan setempat.
4. Sekolah Menengah Atas (Koutougakkou)
Untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat SMA
setiap calon siswa harus mengikuti ujian saringan masuk pada SMA tujuan
masing-masing. Tamatan SMP dapat
melanjutkan ke SMA dengan mengikuti seleksi yang diadakan oleh masing-masing
sekolah. Hampir 90% tamatan Sekolah Menengah Pertama di Jepang melanjutkan ke
SMA. Karena ujian tersebut dikatakan cukup sulit makan setiap calon
siswa yang akan mengikuti ujian saringan masuk disarankan untuk mengikuti
bimbingan belajar di sebuah lembaga khusus seperti di juku atau yobiko untuk
meningkatkan kemampuan dan kesiapan siswa pada tes saringan masuk menuju
jenjang SMA.
Ada tiga jenis SMA di Jepang yaitu sekolah negeri
yang diatur oleh pemerintah pusat, sekolah negeri yang diatur pemerintah
propinsi dan sekolah swasta yang diatur oleh lembaga hukum swasta. Biaya
pendidikan untuk tingkat SMA ditanggung oleh masing-masing individu karena
pendidikan di SMA tidak termasuk pendidikan dasar. Kualifilasi guru SMA di jepang adalah berpendidikan Magister dengan
sertifikat mengajar kelas satu, sedangkan guru yang berpendidikan Doktor mempunyai sertifikat kelas dua.
Kurikulum di SMA diatur oleh masing-masing sekolah dengan mengikuti aturan pemerintah. Kebebasan untuk meramu kurikulum di masing-masing sekolah sangat terbatas namun memungkinkan tiap daerah dan sekolah mempunyai ciri khas tersendiri.
Kurikulum di SMA diatur oleh masing-masing sekolah dengan mengikuti aturan pemerintah. Kebebasan untuk meramu kurikulum di masing-masing sekolah sangat terbatas namun memungkinkan tiap daerah dan sekolah mempunyai ciri khas tersendiri.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat
membuat kurikulum untuk SMA adalah menetapkan tujuan sekolah, mempelajari
standar kurikulum dan korelasinya dengan tujuan sekolah, menyusun mata
pelajaran wajib dan pilihan serta mengalokasikan hari efektif sekolah dan jam
belajar. Mata pelajaran yang diajarkan meliputi bahasa Jepang, bahasa Inggris,
Matematika, Sejarah, Olahraga, Keterampilan dan Kesenian, IPA, Mata pelajaran
terpadu serta Home room. Tiap sekolah memiliki kebebasan meramu pelajaran
pilihan khususnya untuk kelas 2 dan 3 dengan jumlah kredit rata-rata adalah 30
untuk setiap jenjang.
Berikut
ini adalah contoh kurikulum yang diterapkan di SMA Nakamura sebuah SMA Negeri
dan favorit di Jepang. SMA Nakamura adalah SMA yang menganut sistem mata
pelajaran waktu penuh dengan hari belajar dari Senin sampai Jumat. Tujuan
sekolah adalah untuk mengarahkan lulusannya melanjutkan ke Perguruan Tinggi.
Seperti halnya SMA lainnya di Jepang, jam pelajaran pertama dimulai pada pukul
8:45 dan berakhir pada pkl 15.15. Terdapat 31 jam pelajaran selama 5 hari
belajar yaitu 6 jam setiap harinya kecuali hari Rabu. Waktu belajar mengajar
setiap jam belajarnya adalah 50 menit. Mata pelajaran yang diajarkan meliputi:
Bahasa Jepang, Geografi/ Sejarah, Pendidikan Kewarganegaraan, matematika,
Pendidikan Jasmani dan OR, Pendidikan Seni, Bahasa Asing
(Bahasa Inggris), Pendidkan Kesejahteraan Keluarga, dan Mata pelajaran terpadu.
Ujian diadakan sebanyak 5 kali yaitu pada bulan Mei, Juli, Oktober, Desember
dan Februari. Tahun ajaran baru dimulai pada bulan April dan diakhiri bulan
pertengahan Juli. Salah satu ciri khas SMA Nakamura adalah Reading Session yang
diperuntukkan untuk kelas 1 dan 2. Pada kegiatan ini masing-masing kelas
dianjurkan untuk memilih satu buku yang akan didiskusikan bersama dalam kelas.
Tujuan kegitan ini adalah untuk memberikan pemahaman yang luas dan saling
pengertian antar siswa dalam mengeluarkan pendapat.
Pendidikan tingkat ini terbagi atas 3 jenis
kelas :
A. Full
Time
Berlangsung
selama 3 tahun penuh, sesuai dengan Sekolah Menengah Atas pada umumnya dan
rata-rata siswa Jepang memilih pendidikan Full Time seperti ini. Siswa dituntut
harus mengikuti 80 kredit mata pelajaran, siswa kelas satu harus mengikuti mata
pelajaran wajib, sedangkan untuk siswa kelas dua dan tiga diperbolehkan memilih
4 mata pelajaran wajib ditambah 14 kredit mata pelajaran sesuai dengan
kebutuhannya pada perencanaan karier masa depannya.
B. Part
Time
Pendidikan
ini diberikan pada waktu malam hari disesuaikan dengan waktu yang dimiliki
mahasiswa yang mengikuti kerja part time dan dianggap setara dengan Diploma dan
memakan waktu lebih dari 3 tahun. Jenis pendidikan ini hanya berlaku di universitas
pada kelas-kelas karyawan seperti di Indonesia. Part Time pada pendidikan
Jepang terbagi menjadi dua kelas yaitu:
1. Daytime Part Time Course : Siswa dinyatakan lulus
apabila telah mengambil mata kuliah sebanyak 74 kredit. Dalam menempuh
pendidikan tersebut siswa dapat menghabiskan waktu selama empat hingga 6 tahun
dibangku sekolah, mata pelajaran yang ditawarkan berupa mata pelajaran berupa
pilihan dengan sistem belajar menyerupai pola pembelajaran di universitas
dimana siswa tersebut menentukan sendiri mata pelajaran yang akan diambil pada
setiap semesternya. Sehingga jenis pendidikan ini dapat dikatakan setara dengan
Diploma.
2. Evening Part Time Course : Siswa dinyatakan lulus
apabila telah menempuh 74 kredit mata pelajaran sama seperti pendidikan Daytime
Part Time Course dengan lama waktu pendidikan sekitar tiga hingga 4 tahun.
Jenis pendidikan ini diperuntukan bagi siswa yang bekerja pada siang hari
sehingga siswa dapat mengambil kelas pada waktu sore ataupun malam disesuaikan
dengan waktu kerjanya.
C. Correspondence
Jenis
pendidikan ini merupakan kombinasi antara Full Time dan Part Time dengan
menawarkan cara pembelajaran yang khas yaitu siswa tidak perlu setiap hari
menghadiri pelajaran dikelas dan cukup hadir tiga kali dalam satu bulan dengan
kredit yang harus dikumpulkan sebanyak 74 kredit, course ini juga diperuntukan
bagi siswa yang hanya ingin sekedar belajar dan meningkatkan pengetahuan tanpa
berniat untuk mendapatkan ijazah atau kelulusan. Rata-rata yang mengambil
course ini siswa-siswa yang berusia sekitar 15-30 tahun.
Tugas siswa pada course ini lebih
ditingkatkan pada pembelajaran sendiri dirumah. Siswa diberikan tugas-tugas
yang diselesaikan dirumah berdasarkan buku panduan, dengan tetap mengikuti
ujian pada tiap-tiap semester. Tugas membuat laporan menentukan nilai siswa
tersebut dan tugas dikirimkan melalui pos ke sekolah dan guru akan segera
menilai hasil pekerjaan yang dibuat oleh siswa-siswanya. Setelah pemeriksaan
guru akan mengirim balik hasil tugas tersebut disertai dengan penilaian. Untuk
mendaftar pada jenis pendidikan ini setiap calon siswa harus mengikuti tes.
Jurusan pada SMA di Jepang dikategorikan kedalam
beberapa jenis yaitu jurusan umum (akademis), pertanian, teknik, perdagangan,
perikanan, ekonomi, dan perawatan. Semua jursan tersebut disesuaikan dengan
kurikulum yang berlaku di negara tersebut.
5. Pendidikan Tinggi (Daigaku)
Ada tiga jenis pendidikan pada Perguruan Tinggi
Jepang :
A. Universitas
Pada universitas terdapat pendidikan untuk menempuh
gelar sarjana S1 bergelar Bachelor’s Degree ditempuh selama 4 tahun (untuk
mahasiswa kedokteran dan dokter gigi menempuh pendidikan selama 6 tahun) dan
Pascasarjana S2 Master’s Degree ditempuh selama 2 tahun dan S3 Doctor’s Degree
ditempuh selama 5 tahun.
B.Junior
College
Membutuhkan waktu sekitar tiga hingga 4 tahun masa
pendidikan bagi para lulusan SMA. Junior College cukup memenuhi setengah dari
kredit yang harus ditempuh Bachelor’s Degree. Calon-calon mahasiswa Universitas
dan Junior College dipilih berdasarkan hasil ujian serta prestasi calon-calon
mahasiswa ketika berada di SMA. Untuk universitas negri calon-calon mahasiswa
dipilih berdasarkan dua tahap penyeleksian yaitu tes gabungan kecakapan dan
ujian masuk universitas sebagai tahap akhir penyeleksian.
C.Technical College
Dapat diambil bagi calon mahasiswa yang tamat
pendidikan SMP. Technical College menghasilkan lulusan-lulusan tenaga teknisi. Bagi mahasiswa asing disajikan
lima jenis pemilihan pendidikan yaitu:
1)
Program
Sarjana : Ditempuh selama 4 tahun seperti pendidikan pada universitas reguler
umumnya sedangkan jurusan kedokteran harus menempuh pendidikan selama 6 tahun.
2)
Pascasarjana
: Terdiri atas program Master, Doktor, Mahasiswa Peneliti (mahasiswa yang
diizinkan selama satu semester ataupun 1 tahun melakukan penelitian tanpa
memperoleh gelar), Mahasiswa Pendengar, dan Pengumpul Kredit mata kuliah.
3)
Diploma
: Menempuh pendidikan selama 2 tahun. 60% dari program ini diperuntukkan
bagi pelajar perempuan dan mengajarkan bidang-bidang seperti kesejahteraan
keluarga, sastra, bahasa, kependidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
4)
Special Training
Academy : Merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan bidang-bidang
khusus seperti ketrampilan dalam membuka usaha dan berkaitan dengan kehidupan
sehari-hari dengan lama pendidikan 1-3 tahun.
5)
Sekolah
Kejuruan : Program khusus bagi tamatan SMP dengan masa pendidikan 5 tahun
dengan tujuan menghasilkan teknisi-teknisi yang handal dan mau mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan tuntutan zaman.
6.
Pendidikan
non formal
Pendidikan non formal di Jepang dikenal sebagai
pendidikan sosial. Banyak tersedia untuk pendidikan non formal seperti
pendidikan untuk remaja, usia lanjut, atau hobi seperti surat menyurat.
Kegiatan pendidikan non formal di Jepang rata-rata dilaksanaan oleh lembaga non
pemerintah seperti lembaga persuratkabaran, lembaga penyiaran, toko-toko,
perusahaan dan lain-lain
7.
Anggaran
Pendidikan
Berikut ini adalah contoh anggaran pendidikan
Jepang tahun 1997 yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Olahraga,
Budaya dan Teknologi Jepang (MEXT). Pada tahun 1997 anggaran pendididkan Jepang
adalah sebesar 5,270.5 billion yen. Berikut adalah alokasi anggaran yang
diterbitkan oleh MEXT MEXT’s General Budget for FY2007
graph. Anggaran terbesar dialokasikan untuk pembinaan dan pengembangan
compulsory education (wajib belajar), yaitu untuk pembayaran SPP siswa yaitu
31.6% dari total anggaran. Pengeluaran terbesar kedua adalah untuk manajemen
pendidikan tinggi yang beralih status dari universitas negeri menjadi
“koujinka” (Corporation Law), semacam BHMN di Indonesia. Dana untuk kegiatan
ini sebesar 22.9% dari total anggaran. Perubahan status universitas di Jepang
adalah sebagai langkah privatisasi instansi negara yang sudah dimulai sejak
masa PM Koizumi. Anggaran terbesar ketiga adalah untuk pengembangan sains dan
teknologi (16%). Di SMP dan SMA Jepang, 2 tahun yang lalu telah diperkenalkan
program Super Science, berupa peningkatan value materi sains, dan penambahan
perlengkapan eksperimen di sekolah. Sebagian besar dana disalurkan untuk
penelitian sains di universitas. Anggaran selanjutnya adalah untuk membantu
sekolah atau universitas swasta, sebesar 8.6% dari total anggaran. Dari dana
ini bagian terbesar diberikan kepada universitas swasta. Sekolah-sekolah swasta
di Jepang mendapat bantuan dana dari MEXT dan juga pemerintah daerah setempat,
tergantung kepada tingkat keperluan. Anggaran selanjutnya adalah untuk life
long learning education contohnya olahraga dan anggaran untuk mahasiswa asing.
Tahun ini beasiswa yang dikeluarkan oleh MEXT untuk mahasiswa asing sebesar
175,000 yen per kepala, yang ada rencana akan diturunkan menjadi 160,000 yen
per Oktober tahun ini.
Anggaran lainnya adalah untuk kebijakan energi
berupa penggunaan peralatan listrik yang diperlukan saat musim panas (AC) atau
heater (saat musim panas), penggunaan listrik dan air. Dana untuk keperluan ini
sebesar 4.2% total anggara, lalu 2.3% anggaran dipakai untuk pemberian beasiswa
kepada anak-anak Jepang, 2% untuk pemeliharaan fasilitas sekolah negeri, 1.9%
untuk kegiatan budaya, 1% untuk grant pemeliharaan fasilitas universitas
negeri, dan 0.8% untuk pemesanan dan pembelian buku pelajaran.
8.
Permasalahan Pendidikan Jepang
Permasalah pertama yang masih dimiliki Jepang saat
ini adalah banyaknya guru SMA yang tidak mengajarkan secara lengkap mata
pelajaran ke siswanya yang mempengaruhi kelulusan mereka. Tiga mata pelajaran
yang disoroti adalah sejarah dunia (”sekai-shi”), sejarah nasional
(”nihon-shi”) dan geografi (”chiri”). Tercatat lebih dari 60 SMA di 11 propinsi
di Jepang yang tidak mengajarkan sejarah dunia (”sekai-shi”), padahal ini mata
pelajaran wajib. Menurut aturan Monbukagakusho, sekai-shi adalah mata pelajaran
wajib SMA yang harus diikuti siswa. Sedangkan geografi (”chiri”) dan sejarah
nasional Jepang (”nihon-shi”) adalah mata pelajaran pilihan tetapi siswa harus
mengikuti satu diantara keduanya. Alasan yang dikemukan oleh pihak sekolah
adalah menyajikan mata pelajaran yang sesuai dengan yang diujikan saat masuk ke
perguruan tinggi. Banyaknya siswa yang masuk keperguruan tinggi mengangkat nama
baik sekolah sehinggga banyak sekolah yang berkosentrasi pada mata pelajran
yang diujiankan pada saat masuk perguruan tinggi.
Permasalahan yang kedua adalah para siswa yang
terbebani tugas berat. Apabila dilihat lebih jauh ternyata sistem pendidikan
Jepang jika dilihat dengan kacamata teori pendidikan barat bisa dikategorikan sebagai
suatu sistem pendidikan tradisional. Pemerintah pusat memegang kontrol
pendidikan, termasuk menentukan kurikulum yang berlaku secara nasional baik
bagi sekolah negeri ataupun sekolah swasta. Pengajaran menekankan hafalan dan
daya ingat untuk menguasai materi pelajaran yang diberikan. Materi pelajaran
diarahkan agar murid bisa lulus ujian akhir atau test masuk ke sekolah lebih
tinggi, tidak mengembangkan daya kritis dan kemandirian murid. Semua murid
diperlakukan sama, tidak ada treatment khusus untuk murid yang tertinggal.
Sekolah menekankan pada diri murid sikap hormat dan patuh kepada guru dan
sekolah. Dengan singkat sistem pendidikan Jepang dapat dikatakan suatu sistem
pendidikan yang “kaku, seragam dan tiada pilihan bagi anak didik”. Meskipun anak
didik di Jepang memiliki prestasi lebih tinggi dari pada prestasi anak Amerika,
namun hal itu dicapai dengan pengorbanan yang tidak ringan. Antara lain
murid-murid di Jepang tidak bisa “menikmati” enaknya sekolah. Sebab dari waktu
ke waktu anak didik di Jepang dikejar-kejar oleh pekerjaan rumah, ulangan dan
ujian. Hasilnya murid-murid Amerika lebih independent dan innovative dalam
berfikir.
Dibalik sistem pendidikan di Jepang yang kaku dan
seragam tersebut sebenarnya ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Pertama
penegakkan disiplin patuh terhadap guru dan sekolah menyebabkan anak didik di
Jepang secara menggunakan waktu sekolah lebih besar dari pada anak-anak sekolah
di Amerika Serikat. Kedua, sistem pendidikan di Jepang telah berhasil
melibatkan orang tua anak didik dalam pendidikan anak-anaknya. lbu, khususnya senantiasa
memperhatikan, memberikan pengawasan dan bantuan belajar kepada anak-anaknya.
Ketiga, di luar sekolah berkembang kursus-kursus yang membantu anak didik untuk
mempersiapkan ujian atau mendalami mata pelajaran yang dirasa kurang. Keempat,
status guru dihargai dan gaji guru relatif tinggi. Hal ini mengakibatkan
pekerjaan guru mempunyai daya tarik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembahasan di atas bisa
disimpulkan sebagai berikut. Beberapa faktor yang mendukung berhasilnya Jepang
merombak masyarakat melalui pendidikan adalah sebagai berikut. Pertama perhatian
pada pendidikan datang dari berbagai pihak. Kedua, sekolah Jepang tidak mahal.
Ketiga, Jepag tidak ada diskriminasi terhadap sekolah. Keempat, kurikulum
sekolah Jepang amt berat. Kelima, sekolah sebagai unit produksi. Keenam, guru
terjamin tidak akan kehilangan jabatan. Ketujuh, guru Jepang penuh dedikasi.
Kedelapan, guru Jepang merasa wajib memberi pendidikan manusia seutuhnya.
Kesembilan, guru Jepang bersikap adil.
Di samping itu, pengaruh
pendidikan terhadap anak dan masyarakat telah membuat pendidikan Jepang
mempunyai potensi yang luar biasa dalam berbagai hal.
DAFTAR PUSTAKA
m.kompasiana.com/nipponia/bagaimana
pendidikan Anak SD di
Jepang.